Senin, 13 April 2009

Pengamatan Darah Ikan

Hasil

Tabel 1. Hasil Pengamatan Gambaran Darah Ikan Lele Clarias sp.




Pembahasan

Wedemeyer et al. (1990) dalam Dopongtonung (2008) menyatakan bahwa pemeriksaan darah penting untuk membantu peneguhan diagnosa suatu penyakit. Penyimpangan fisiologis ikan akan menyebabkan terjadinya perubahan pada gambaran darah, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Darah akan mengalami perubahan yang serius khususnya apabila terkena penyakit infeksi (Amlacher, 1970 dalam Dopongtonung, 2008). Parameter darah yang dapat memperlihatkan adanya gangguan adalah nilai hematokrit, konsentrasi haemoglobin, jumlah eritrosit (sel darah merah), dan jumlah leukosit (sel darah putih) (Lagler et al., 1977 dalam Dopongtonung, 2008).

Berdasarkan tabel 1 pengamatan sel darah merah (SDM) didapatkan bahwa kelompok 1 memiliki nilai SDM terendah sebesar 2,56 x 106 sel/ml dan kelompok 3 memiliki nilai SDM tertinggi sebesar 3,25 x 106et al. (1985) dalam Dopongtonung (2008) yang menyatakan bahwa jumlah eritrosit ikan lele adalah 3,18 x 106 sel/ml. Selain itu menurut Angka et al. (1985) dalam Dopongtonung (2008), ukuran eritrosit ikan lele Clarias sp. berkisar antara (10 x 11 µm)–(12 x 13 µm), dengan diameter inti berkisar antara 4-5 µm. Hal tersebut bisa saja terjadi diduga kondisi ikan yang tidak normal. Berdasarkan tabel 1 didapatkan bahwa untuk kelompok 1 diduga ikan lele terkena anemia akibat rendahnya eritrosit yang nilainya sebesar 2,56 x 106 sel/ml. Sedangkan pada kelompok 2 dan 3 diduga ikan mengalami stres saat pengambilan (penanganan) ikan dalam wadah ember untuk proses diagnosa yang ditandai tingginya eritrosit sebesar untuk kelompok 2 yaitu, 3,25 x 106 sel/ml dan kelompok 3 yaitu, 3,25 x 106 sel/ml. Pendapat ini didukung oleh Wedemeyer dan Yasutake (1977) dalam Dopongtonung (2008) yang menyatakan bahwa rendahnya eritrosit merupakan indikator terjadinya anemia, sedangkan tingginya jumlah eritrosit menandakan ikan dalam keadaan stres. sel/ml. Data tersebut berbeda dengan pendapat Angka

Leukosit merupakan jenis sel yang aktif di dalam sistem pertahanan tubuh. Leukosit memiliki ciri-ciri tidak berwarna dan jumlah leukosit ikan lele sehat berkisar antara (20-150) x 103 sel/mm3 (Bastiawan dkk., 2001 dalam Alamanda, 2006). Jumlah leukosit pada tabel 1 didapatkan berkisar antara (1,453-2,21) x 105 sel/ml. Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa kondisi secara keseluruhan leukosit ikan berada dalam tingkat yang tidak normal. Pada kelompok 5 didapatkan data terendah sebesar 1,453 x 105 sel/ml dan diikuti oleh kelompok 6 sebesar 1,88 x 105 sel/ml. Berdasarkan data kelompok 5 dan 6 diduga ikan lele mengalami infeksi penyakit. Hal tersebut didukung oleh pendapat Arry (2007) dalam Dopongtonung (2008) yang menyatakan bahwa penurunan jumlah leukosit disebabkan karena adanya gangguan pada fungsi organ ginjal dan limpa dalam memproduksi leukosit yang disebabkan oleh infeksi penyakit. Sedangkan pada kelompok 4 berada pada kisaran normal yang ditandai dengan jumlah leukosit sebesar 2,21 x 105 sel/ml. Leukosit ikan lele terdiri dari monosit, limfosit, dan neutrofil. Menurut Bastiawan dkk. (2001) dalam Alamanda (2006) monosit berfungsi sebagai fagosit terhadap benda-benda asing yang berperan sebagai agen penyakit. Limfosit berfungsi sebagai penghasil antibodi untuk kekebalan tubuh dari gangguan penyakit. Neutrofil berperan dalam respon kekebalan terhadap serangan organisme patogen dan mempunyai sifat fagositik. Neutrofil dalam darah akan meningkat bila terjadi infeksi dan berperan sebagai pertahanan pertama dalam tubuh (Dellman dan Brown, 1989 dalam Alamanda, 2006).

Hematokrit adalah persentase eritrosit di dalam darah (Guyton, 1997 dalam Dopongtonung, 2008). Hematokrit digunakan untuk mengukur perbandingan antara eritrosit dengan plasma, sehingga hematokrit memberikan rasio total eritrosit dengan total volume darah dalam tubuh. Persentase nilai hematokrit ikan lele normal berkisar antara 30,8%-45,5% (Angka et al., 1985 dalam Dopongtonung, 2008). Berdasarkan tabel 1 jumlah hematokrit lele berkisar antara 5,97%-34,88%. Hal tersebut berarti memiliki persentase terendah dibandingkan dengan pendapat Angka et al. (1985) dalam Dopongtonung (2008) yang sebesar 30,8%-45,5%. Data tersebut bisa saja terjadi diduga ikan mengalami anemia maupun stres akibat rendah ataupun tingginya nlai eritrosit. Eritrosit tersebut merupakan faktor yang berpengaruh terhadap tinggi rendahnya persentase hematokrit. Hal ini sesuai dengan pendapat Angka et al. (1985) dalam Dopongtonung (2008), nilai hematokrit adalah parameter yang berpengaruh akibat pengukuran volume eritrosit. Menurut Randall (1970) dalam Dopongtonung (2008), nilai hematokrit yang lebih kecil dari 22% menunjukkan bahwa ikan mengalami anemia dan kemungkinan terinfeksi penyakit.


DAFTAR PUSTAKA


Alamanda, et. al. 2006. Penggunaan Metode Hematologi dan Pengamatan Endoparasit Darah untuk Penetapan Kesehatan Ikan Lele Dumbo Clarias gariepinus di Kolam Budidaya Desa Mangkubumen Boyolali. Biodiversitas 8 (1) : 34-38.

Dopongtonung, A. 2008. Gambaran Darah Ikan Lele (Clarias spp.) yang Berasal Dari Daerah Laladon-Bogor. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

1 komentar:

Rahmat mengatakan...

tengkyu Nong.. iLu dah..

Suatu penghargaan besar dari saya untuk Anda karena telah bersedia masuk di blog ini. Saya akan mencoba dan berusaha memberikan yang terbaik untuk Anda............... Selamat menikmati...............